Hari Minggu, 31 Aug 2008, Pak Syafruddin, seorang teman rombongan haji gue meninggal dunia. DBD. Gue sedih banget. Pak Syafruddin itu teman gue selama 40 hari di Mekkah, Arafah, hingga Madinah. Teman satu grup. Teman sharing rokok. Teman berantem pula. Teman thawaf, teman sa'i, dll. Banyak deh. Ribut antara gue dan dia juga pernah. Tinggal bersama 40 hari pada akhirnya akan menimbulkan percikan api, karena sifat masing-masing akan muncul.
Pak Syaf ini kerjanya di Kalimantan. Pedalaman sana. Pertambangan. Jadi pulang ke rumah hanya 2 bulan sekali. Sejak pulang dari haji, pak Syaf hanya pulang kampung sebanyak 3x. Pada semua kesempatan tsb gue selalu sempat bertamu ke rumahnya. Bahkan ngobrol hingga lewat tengah malam. Walau dulu suka tengkar, tapi pada dasarnya kami teman baik. Saling menghormati, dan punya beberapa kesamaan. Dia juga sempat bantu saat gue sedang proses rekrutmen di Aneka Tambang.
Saat dapat berita ia dirawat DBD di rumah sakit, gue dan Idah segera menjenguk. Padahal gue juga sedang sakit flu saat itu. Nampaknya dia membaik, dan kami pun ngobrol dan tertawa. Everything was fine. Hingga ternyata Allah memutuskan berbeda.
Gue sangat terkejut mendengar beliau wafat. Tepat satu hari sebelum Ramadhan. Gue sangat sedih,karena kehilangan seorang sahabat. Walau ia jauh lebih tua (wafat di usia 53 tahun). Gue kehilangan teman ngobrol, ngopi2, rokok, begadang, ngobrol ttg kehidupan dan moral, dst. Tidak banyak teman gue seperti dia. Dan kini dia sudah tiada.
Selamat jalan pak Syafruddin. Semoga saya selalu ingat pesan-pesan dan amanahmu. Insya Allah kini kau dapat menghadap Tuhan mu dengan bangga, karena sudah melaksanakan kewajiban terakhir sebagai seorang Muslim, yaitu pergi haji. Semoga Allah memaafkan seluruh kesalahanmu di masa lalu, dan memberikan termpat tersejuk di sisi-Nya. Amin.
Jumat, Desember 25, 2009
Selasa, Desember 15, 2009
SEPET

JUDUL: SEPET
SUTRADARA: YASMIN AHMAD
TAHUN: 2004
DURASI: 103 menit
Sepet adalah film pertama dari Yasmin Ahmad (yang wafat 25 Juli 2009) yang saya kenal. Sahabat saya, Liza Mydin, seorang warga negara Malaysia, memberikan VCDnya di awal tahun 2006. Belum dirilis versi DVDnya waktu itu. "This is a good movie, and people are talking about it in KL,"begitu ucapnya kira-kira. Saat itu saya tidak tahu siapa itu Yasmin Ahmad, dan tak terpikir untuk mencari tahu. Adegan demi adegan mengalir dan mulailah saya menangkap isi film Sepet. Ketika itulah saya kagum terhadap Yasmin Ahmad.
Pemeran utama adalah Sharifah Amani yang memerankan Orked, seorang gadis Melayu Muslim dari keluarga yang berkecukupan dan berpendidikan. Berpenampilan klasik dgn rambut digerai, berpakaian baju kurung, dan tanpa kerudung. Banyak yang bilang kebanyakan gadis Malaysia, termasuk di Kuala Lumpur, tidak lagi berpakaian seperti ini. Umumnya kini berpakaian lebih santai dan casual, walau masih dalam batas-batas khas pakaian Muslim. Kira-kira seperti sebagian generasi muda di kota besar di Indonesia. Namun pengalaman saya beberapa kali mengunjungi Kuala Lumpur dan Malaka, umumnya perempuan generasi muda Malaysia berpakaian seperti Orked (plus kerudung). Jika ada yang berpakaian casual, umumnya perempuan keturunan India atau Tionghoa.
Pemeran utama lain adalah Ng Choo Seong yang memerankan Jason, seorang pemuda keturunan Tionghoa, akrab dengan kehidupan malam dan geng kriminal, serta berdagang VCD bajakan. Kita dapat melihat sisi gelap wajah sebuah kota metropolitan.
Film Sepet berfokus pada hubungan antara kedua remaja ini, dimana hubungan ini sebenarnya adalah potret kondisi sosial sebagian masyarakat Malaysia. Sebagaimana diketahui, penduduk Malaysia terutama terdiri dari tiga etnis besar: Melayu, Tionghoa, dan India, dengan agama Islam, Hindu, Katolik, Protestan, Buddha, dslb. Kehidupan bermasyarakat membuat kelompok-kelompok etnis ini berinteraksi dan bergesekan. Mulai dari persahabatan, perdagangan, pernikahan, politik, hingga urusan beribadah dan pertikaian.
Hubungan istimewa Orked dan Jason ditentang oleh masing-masing lingkungan. Tidaklah lazim dua orang dari beda etnis menjalin hubungan akrab. Masing-masing kelompok etnis memiliki pemahamannya sendiri akan kelompok etnis lain. Kecurigaan satu sama lain mengambang di permukaan, dan ibarat mesiu, tinggal menunggu pemantik api untuk meledakkannya. Sebenarnya wajah Indonesia tidak jauh berbeda sekitar 20-30 tahun lalu. Mungkin di beberapa kota kondisi seperti di Malaysia masih ditemukan, namun secara umum masyarakat beda etnis mulai membaur. Kondisi dalam film Sepet mencerminkan sebagian kondisi yang sedang dialami bangsa Malaysia saat ini.
Film Sepet menyentil sebagian wajah masyarakat Malaysia, dan sebagian kritik menyerang Yasmin Ahmad dengan keras. Mulai dari hubungan romantis Orked dan Jason, dunia bawah tanah selompok kriminal etnis Tionghoa, persepsi masyarakat, dan lain sebagainya. Yasmin Ahmad pernah menyatakan keheranannya akan protes sebagian kelompok masyarakat, karena ia semata memindahkan kondisi nyata ke layar perak.
Sepet adalah film pertama dari trilogi Orked. Berikutnya adalah Gubra (2006) dan Mukhsin (2007). Gubra mengambil setting waktu beberapa tahun setelah Sepet, sedangkan Mukhsin beberapa tahun sebelum Sepet.
Sabtu, Desember 12, 2009
TALENTIME

JUDUL: TALENTIME
TAHUN: 2009
SUTRADARA: YASMIN AHMAD
DURASI: 120 menit
Talentime adalah film panjang terakhir Yasmin Ahmad sebelum ia meninggal dunia 25 Juli 2009 karena serangan stroke. Berbeda dengan 5 film panjang lainnya (Rabun, Sepet, Gubra, Mukhsin & Muallaf), Yasmin banyak memberi porsi pada musik. Bisa jadi karena Talentime mengambil latar acara lomba seni sebuah sekolah lanjutan atas, dan banyak (namun tidak penuh) lagu riang dan menyenangkan. Walau demikian, Talentime bukanlah film musik.
Fokus cerita Talentime ada pada persahabatan. Persahabatan antara siapa dengan siapa? Ada beberapa bingkai cerita yang dilepaskan dari bingkai cerita utama, lalu pada akhir cerita digabungkan kembali.
Mahesh adalah seorang siswa senior di sekolahnya. Baik hati, nice looking, ramah, namun tuna rungu dan tuna wicara. Pemuda etnis India Hindu ini tinggal bersama ibunya dan kakak perempuannya. Ayahnya sudah meninggal beberapa tahun lamanya. Paman Mahesh, Ganesh, yaitu adik ibunya, adalah seorang pemuda India setengah baya yang berencana menikah dalam waktu dekat. Ganesh meninggal dunia secara tragis pada hari pernikahannya karena bertikai dengan tetangganya seorang Muslim yang sedang berduka kematian di rumahnya. Pertikaian berakhir dengan wafatnya Ganesh.
Terpilih beberapa siswa junior sebagai finalis acara Talentime. Salah seorang diantaranya adalah Hafidz, yang punya suara merdu dan pandai bermain gitar. Ia memiliki ibu yang sedang dirawat di rumah sakit karena tumor di kepala. Selama dirawat, sang ibu berkawan dengan seorang pria berkursi roda, sesama pasien, yang sering menghibur dan mengajak mengobrol.
Di sekolah, Hafidz punya masalah dengan teman sekelasnya, Kahoe, karena kerap mengalahkannya dalam nilai pelajaran. Padahal Hafidz sering menjawab pertanyaan multiple choice dengan cara melempar dadu. Kahoe juga terpilih sebagai finalis Talentime karena keindahannya bermain erhu, instrumen gesek asal Cina seperti cello cilik.
Finalis lainnya adalah Melur, perempuan campuran Melayu-Inggris yang pandai bernyanyi sambil main piano. Keluarganya sangat mendukung keikutsertaannya dalam Talentime, dan berharap menang.
Pihak sekolah memberi tugas kepada 7 orang siswa senior untuk menyediakan fasilitas antar-jemput bagi ke-7 finalis Talentime. Mahesh ditugaskan menjadi 'tukang ojek' Melur.
Perjumpaan yang kerap membuat Mahesh diam-diam mencintai Melur, namun malu karena ia tuna rungu dan tuna wicara. Awalnya sempat terjadi kesalahpahaman karena Melur tidak tahu Mahesh memiliki kekurangan.
Hubungan Melur dan Mahesh tidak disukai ibu Mahesh yang masih berduka karena Ganesh wafat tragis. Ia tidak ingin Mahesh menjalin hubungan dengan perempuan Melayu Muslim, sebagaimana dulu Ganesh mencintai seorang perempuan India Muslim. Sebuah e-mail terakhir Ganesh terkirim kepada Mahesh, sehari sebelum kematiannya, tentang betapa ia menyesali keputusannya untuk tidak melanjutkan hubungan dengan gadis India Muslim itu. Hingga akhir hayatnya, gadis itu tidak menikah, dan Ganesh pun tidak pernah bisa melupakannya. Mahesh hanya berkata dengan bahasa isyarat kepada ibunya sambil berlutut,"Jika Ibu ingin saya memutuskan hubungan dengan gadis itu, saya akan menuruti Ibu. Tapi tolong Ibu bantu saya. Bantu mengatakan perpisahan ini kepada hati saya, karena saya tidak tahu bagaimana caranya." Huaaaaa....nak pengsan awak mendengarnya.....
Lalu bagaimana akhir cerita? Apakah hubungan Melur dan Mahesh berjalan mulus? Kembali bersahabatkah Hafidz dan Kahoe? Siapa pemenang lomba Talentime? Mudah2an DVD Talentime segera beredar resmi di Indonesia.
=====
Secara umum, bagi saya, Talentime tidak sekuat film-film Yasmin Ahmad sebelumnya. Mungkin karena tema hubungan asmara antar etnis selalu jadi fokus pada setiap film panjangnya. Namun ada banyak hal menarik untuk diperbincangkan. Misalnya bagaimana hubungan sosial antara kelompok Hindu dan Islam, dan bagaimana mereka sulit untuk toleransi (misalnya penyebab terbunuhnya Ganesh). Atau marahnya ayah Kahoe karena nilai pelajarannya kalah dari seorang bumiputera. Atau sulitnya nenek Melur yang asli Inggris dan sahabat ibu Melur mengerti betapa akrabnya pembantu rumah tangga (eh, benar ngga nih dia pembantu?) yang Cina Muslim dengan keluarga Melur.
Talentime konon sudah dirilis DVDnya. Hanya saja ..... DVD versi Malaysia ini terbit tanpa subtitles! Sementara filmnya berbahasa Melayu, Inggris, dan Tamil.
MUALLAF

MUALLAF
JUDUL: MUALLAF
SUTRADARA: YASMIN AHMAD
TAHUN: 2008
DURASI: 80 menit
Film panjang ke-5 sutradara asal Malaysia, Yasmin Ahmad (wafat 25 Juli 2009), yang terbit tahun 2008 menjadi salah satu film best seller Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2009. Hanya diputar sebanyak 2 kali, dimana pemutaran pertama khusus untuk undangan. Muallaf menjadi bagian dari Madani Film Festival, program kerjasama antara Rumah Film dan Jiffest.
Sebagai tanda penghormatan kepada Yasmin Ahmad, Jiffest memutar seluruh 6 film panjang karya almarhumah: Rabun (2003), Sepet (2004), Gubra (2006), Muallaf (2008), dan Talentime (2009). Film Mukhsin (2007) yang merupakan bagian terakhir dari trilogi Sepet & Gubra, sudah diputar di Jiffest tahun sebelumnya. Orked Ahmad (adik Yasmin) dan Sharifah Amani (aktris utama dalam Sepet, Gubra, dan Muallaf) juga hadir selama Jiffest, termasuk Amir Muhammad, pembuat film dan penulis buku Yasmin Ahmad's Films.
Saya pertama mengenal Yasmin melalui film Sepet. Saat itu seorang sahabat asal Kuala Lumpur memberikan VCD Sepet (versi DVD belum terbit ketika itu) di tahun 2006. "Ini film baru dan sangat terkenal di Malaysia," begitu ucap Liza Mydin dalam logat Melayu. Sepet-lah yang menjadi pintu gerbang saya mengenal karya-karya Yasmin Ahmad. Dalam kesempatan berikutnya ketika saya mengunjungi Kuala Lumpur beberapa kali, DVD Gubra dan Mukhsin berhasil didapatkan.
Saya belum sempat menonton Muallaf dan Talentime, ketika Liza mengirim sms mengejutkan dari Kuala Lumpur,"Yasmin Ahmad meninggal dunia, stroke, dalam suatu seminar yang juga dihadiri Siti Nurhaliza." Spontan saya menjawab,"Did you mean Yasmin Ahmad, the movie director?" Saya hanya bisa bersedih sambil mengucapkan,"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un...." Until her died, I never got the opportunity to meet her.
Saat pertama situs pemesanan tiket Jiffest 2009 dibuka, seperti biasa saya mencari jadwal film. Kebetulan semua film Yasmin (kecuali Mukhsin) diputar! Betapa Gembiranya saya melihat Muallaf dan Talentime termasuk dalam daftar film. Spontan saya membeli tiket Muallaf, yang juga bermain di hari yang sama (11 Des 2009) dengan Talentime. Bedanya, Talentime diputar secara cuma-cuma. AKhirnya saya berkesempatan menonton keduanya!
Rabu 9 Des 2009 adalah hari peluncuran buku Amir Muhammad berjudul Yasmin Ahmad's Film. Disinilah saya bertemu Sharifah Amani, Orked Ahmad dan Amir Muhammad, dan berbincang singkat sambil ketiganya menandatangani buku Yasmin Ahmad's Film. Sengaja saya tak banyak membaca isi buku hingga usai menonton Muallaf dan Talentime.
Muallaf berarti beralih keyakinan dari agama lain menjadi seorang Muslim. Namun siapa yang beralih keyakinan dalam film ini? Muallaf berpusat pada tiga orang karakter: Rohani (diperankan oleh Sharifah Amani), Rohana (Sharifah Aleysha, adik Amani), dan Brian (oleh Brian Yap). Brian adalah pemuda Tionghoa yang menjadi guru di kota Ipoh dan menjaga jarak dengan ibunya. Bahkan ia tak peduli dengan telepon dan kepedulian sang ibu, yang rindu dan sayang padanya. Terutama sejak ayah Brian wafat.
Rohani dan Rohana adalah kakak-adik yang lari dari ayahnya dan tinggal di sebuah rumah sahabat mendiang ibunya di Ipoh. Bersembunyi dari intaian sang ayah, yang sudah punya istri lagi, Rohani bekerja sebagai pramusaji di klab malam dan sering menganjurkan para pengunjung untuk tidak minum alkohol. Rohana bersekolah di sebuah sekolah umum tingkat menengah pertama. Keduanya taat beribadah, rajin membaca Qur'an, menghibur pasien koma non-Muslim di rumah sakit (padahal mereka tak mengenalnya), serta senantiasa memaafkan orang yang bersikap kasar kepada dua kakak-adik ini.
Kepribadian yang luhur inilah yang membuat Brian jatuh hati. Dari seorang yang tak peduli dengan ibunya, ia mengikuti nasehat Rohani untuk mengunjungi dan berbaikan dengannya. Rupanya Brian punya kenangan buruk dengan mending ayahnya ketika kanak-kanak. Peristiwa kelam inilah yang membuatnya tak lagi pergi ke gereja dan bermusuhan dengan ayahnya. Perlahan Brian mempelajari isi Qur'an dan mengamati keduanya ketika sedang shalat berjamaah.
Masalah mulai timbul ketika sang ayah berhasil melacak keberadaan Rohani dan Rohana. Apa yang bisa mereka lakukan menghadapi sang Datuk? Apakah cinta Brian bertepuk sebelah tangan? Mungkinkah Rohani menerimanya?
====
Sama seperti karya-karya Yasmin Ahmad pada umumnya, termasuk film-film pendek komersial dan layanan masyarakatnya, almarhumah banyak menyoroti kondisi sosial masyarakat dan budaya Malaysia yang didominasi etnis Melayu, Tionghoa, dan India. Tidak banyak orang Indonesia yang tahu bahwa sesungguhnya Malaysia sedang mengalami krisis identitas bangsa. Friksi eksplisit dan implisit diantara ketiga etnis sebenarnya perlu diperhatikan serius. Tidak hanya bagi bangsa Malaysia, namun juga bangsa lain yang multi etnis dan suku seperti Indonesia. Muallaf (dan juga seluruh 6
film panjang Yasmin) memotret kondisi nyata Malaysia hari ini.
Orked Ahmad, adik kandung Yasmin, tampil mewakili mendiang kakaknya dan menjawab setiap pertanyaan penonton. Ia menjelaskan banyak kisah dibalik pembuatan Muallaf. Indonesia, melalui Jiffest 2009, mendapat kehormatan menonton Muallaf lebih dulu daripada Malaysia. Meski dibuat tahun 2008, Muallaf dicekal di negerinya sendiri, dan insya Allah baru akan tayang perdana pada minggu terakhir Desember 2009.
Sabtu, November 21, 2009
EMAK INGIN NAIK HAJI

JUDUL: EMAK INGIN NAIK HAJI
SUTRADARA: ADITYA GUMAY
TAHUN: 2009
DURASI: 80 menit
Diantara sekian banyak film religi akhir-akhir ini, terutama yang bertemakan Islam, film Emak Ingin Naik Haji termasuk yang mendapat respon baik dari banyak kalangan. Film yang disutradarai Aditya Gumay ini menampilkan perjuangan seorang ibu, dibantu putranya, untuk berangkat menunaikan ibadah haji ke Mekkah.
Sang ibu, diperankan aktris kawakan Aty Kanser, dengan luar biasa mampu memerankan seorang ibu yang cerdas, arif, tulus dan ikhlas dalam mengalami cobaan dan lika-liku hidup. Penampilannya yang nyaris sempurna mampu menyentuh sanubari penonton dan wajar saja jika nyaris setiap penonton menitikkan air mata. Putranya diperankan oleh Reza Rahardian, seorang pelukis dan duda ditinggal istrinya karena alasan ekonomi, sempat tergoda untuk melakukan pencurian kepada sahabat keluarga karena ingin membantu ibunya pergi haji dan anaknya yang harus segera dioperasi karena penyakitnya. Mereka tinggal di perkampungan nelayan pinggir kota Jakarta. Pengambilan gambar lingkungan ini memberikan atmosfir tersendiri, terutama banyak film Indonesia lebih senang menampilkan lingkungan mewah.
Emak Ingin Naik Haji juga menampilkan sisi lain dalam beberapa keluarga. Didi Petet memerankan seorang pengusaha kapal ikan yang sukses, sekeluarga sholeh dan hampir tiap tahun pergi umrah atau haji, namun dengan mudah membatalkan niat pergi karena saudaranya yang seorang artis batal berangkat. Rupanya mereka semangat berangkat karena berada dalam rombongan artis. Potret lain terlihat dari seorang calon walikota yang akan pergi haji demi status. Gelar haji diyakini dapat mendongkrak popularitasnya meraih suara pemilihan terbanyak.
Lantas apa kaitan ketiga keluarga yang akan berangkat haji dengan niat berbeda? Selama pertunjukan ada beberapa lika-liku yang membuat penonton tidak mudah menebak proses film. Akhir film bisa ditebak bahwa Allah SWT akan memberi jalan sang ibu berangkat ke Mekkah. Tapi bagaimana dengan prosesnya? Tahap inilah yang menarik untuk diikuti dan dijamin penonton akan terharu. Terutama bagi mereka yang merasakan pernah dibantu Allah SWT melalui jalan tak terduga.
Rabu, Mei 27, 2009
JOURNEY TO MECCA

JUDUL: JOURNEY TO MECCA: WITH IBN BATTUTA, THE GREATEST TRAVELER IN PREMODERN HISTORY
PRODUSER: DOMINIC CUNNINGHAM-REID & TARAN DAVIES
SUTRADARA: BRUCE NEIBAUR
TAHUN: 2007
DURASI: 45 menit
Film dengan format IMAX ini bercerita tentang perjalanan haji Ibn Battuta di tahun 1325-1326 M. Seorang petualang Muslim terbesar sepanjang masa, bahkan melebihi perjalanan Marco Polo (petualang asal Italia), perjalanan haji ini menjadi awal petualangannya menyusuri nyaris seluruh wilayah Timur Tengah, pantai utara Afrika, Persia (kini Iran), Cina, dan Andalusia (kini Spanyol). Sejak akhir April 2009 diputar di Teater IMAX Keong Emas, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.
Ibn Battuta (diperankan Chems Eddine Zinoun, yang wafat tanggal 12 November 2008) berangkat tahun 1325M dari kampung halamannya di Tangier, Maroko menyusuri pantai dan pegunungan utara Afrika menuju Mesir. Dalam perjalanannya ia menghadapi kerasnya tantangan alam dan, tentu saja, perampokan. Ia nyaris kehilangan nyawanya, jika saja seorang pemimpin suku nomaden tidak mencegah para perampok lebih jauh. Tidak lama Ibn Battuta ditampung di perkemahan pemimpin suku tsb dan menanyakan mengapa ia bersikeras pergi haji ke Mekkah.
Pemimpin suku ini (diperankan Hassam Ghancy) tahu bahwa Ibn Battuta memiliki kerabat kaya di Kairo dan menawarkan diri mengawal hingga kota piramid. Dengan bayaran tinggi tentunya. Ibn Battuta menolaknya dan melanjutkan perjalanan menuju Laut Merah agar bisa menyeberang ke Mekkah. Perang Byzantium membuat keadaan pantai tidak aman dan Ibn Battuta nyaris menyerah. Sang pemimpin suku mengikutinya dan kembali menawarkan bantuan. Akhirnya Ibn Battuta mengalah dan berdua mereka kembali ke pantai utara menuju Damaskus.
Di Damaskus keduanya berpisah. Sang pemimpin Badui menolak ketika diajak Ibn Battuta pergi haji ke Mekkah. "Allah belum memanggilku," katanya. Ia mengembalikan uang upah Ibn Battuta dan minta dibelikan hewan qurban baginya untuk dipersembahkan kepada Allah SWT. Ibn Battuta bergabung dengan ribuan jamaah haji dari Damaskus menuju Mekkah.
Seusai haji Ibn Battuta ingat sebuah hadits Rasulallah,"Pergilah menuntut ilmu hingga ke negeri Cina." Ia terinspirasi hadits tsb dan melanjutkan perjalanan bertualang ke nyaris seluruh negeri Jazirah Arab, Cina, India, Andalusia, dan sebagian Asia Tenggara. Ia tiba di Baghdad beberapa tahun setelah Persia dihancurleburkan oleh Genhis Khan. Catatan mengatakan ia sempat berkunjung ke pulau Sumatera. Total 40 negeri ia kunjungi, 5 kali pergi haji, dan 3 kali perjalanan lebih jauh dibanding Marco Polo. Ibn Battuta baru kembali ke kampung halamannya 29 tahun berikutnya. Kelak ia memiliki murid yang menjadi juru tulisnya, sementara Ibn Battuta menarasikan kisah perjalanannya.
Penonton diajak merasakan beratnya perjalanan haji dan suasana Masjidil Haram abad 13M. Layar semakin indah ketika Journey To Mecca mengajak penonton melihat prosesi haji abad 21. Kerumunan jamaah melakukan thawaf, sa'i, bermalam di Arafah, dan lontar jumarah di Mina. Pemandangan yang mengundang air mata, terharu menyaksikan kebesaran Allah SWT mengumpulkan ummat-Nya di Baitullah. Layar IMAX membuat semua pemandangan ini menjadi pemandangan paling mengagumkan sepanjang masa. Journey to Mecca mendapat penghargaan Most Popular Film di La Geode Film Festival, Paris, 2009
Adalah suatu kekaguman ketika tim produksi berhasil mendapat izin untuk mengambil gambar di Mekkah, terutama di dalam Masjidil Haram. Produksi dilakukan bulan Oktober 2007. Awak produksi berjumlah 85 orang Muslim, plus 8 orang non Muslim, dan bermarkas di Jeddah. Produser, sutradara dan semua personil non-Muslim hanya melambaikan tangan kepada ke-85 orang saat mereka berangkat mengendarai bis menuju Mekkah. Pengambilan digambar disiapkan beberapa waktu sebelum prosesi haji tgl 17 Desember 2007. Saya terharu ketika mengetahui bahwa pengambilan gambar diambil pada waktu yang sama ketika saya dan istri melaksanakan ibadah haji tahun 2007. Ah...seandainya saja wajah saya dan Idah ikut terekam di Journey to Mecca....
Disajikan dengan sangat indah, Journey to Mecca, memberikan pengetahuan, hiburan, dan kenangan bagi penonton.
Kunjungi situs resminya di http://www.journeytomeccagiantscreen.com
Selasa, Februari 17, 2009
BARAN

JUDUL: BARAN
SUTRADARA: MAJID MAJIDI
TAHUN: 2001
DURASI: 94 menit
Film asal Iran ini memenangkan Montreal World Film Festival untuk kategori Sutradara Terbaik di tahun 2001. Masih ada beberapa lagi penghargaan dimenangkan dan dinominasikan di festival film yang berbeda. Pernah pula tampil di JIFFEST xxx dengan sambutan penonton yang antusias. VCDnya pernah tampil resmi di Indonesia, namun sayang DVDnya belum ada disini.
Tema cerita pada dasarnya kisah cinta, walau ditampilkan secara tidak umum. Tampak pekerjaan konstruksi bangunan sedang berlangsung di salah satu pojok kota Teheran. Seorang mandor asal Turki sedang mengawasi kerja para kuli bangunan yang terdiri dari orang asli Iran dan pengungsi dari Afghanistan. Tampak normal saja, walau proses pengerjaan tampak serba kekurangan. Tak lama penonton akan mengetahui bahwa para pekerja asal Afghanistan itu adalah para pengungsi yang tinggal secara ilegal di Iran. Mereka tak boleh mendapatkan pekerjaan resmi di Iran. Bilamana tertangkap, mereka terpaksa dipenjara dan dikembalikan ke negerinya. Pengusaha yang mempekerjakan akan dikenakan denda sangat tinggi, walau sebenarnya petugas tahu banyak pengungsi Afghanistan yang diam-diam bekerja untuk nafkah.
Peran utama film ini adalah Lateef, seorang pemuda Iran, yang tugasnya sebagai office boy di lingkungan konstruksi. Ia menikmati pekerjaannya, walau kinerjanya buruk, hingga seorang teman Afghanistannya jatuh terluka dan tak dapat bekerja. Keesokan hari datanglah Rahmat, anaknya yang masih muda, untuk menggantikannya sebagai kuli bangunan. Dikarenakan fisiknya yang kecil dan lemah, ia tak mampu mengangkat benda-benda berat dan pekerjaan kasar. Akhirnya ia ditugaskan menjadi office boy dan si pemuda Iran dialihkan menjadi kuli bangunan. Masalah timbul karena iri hati, hingga akhirnya semua pekerja gelap Afghanistan tertangkap dan dipecat.
Lateef belakangan mengetahui bahwa perampas pekerjaannya itu sebenarnya adalah seorang gadis bernama Baranyang menyamar jadi pria . Perlahan ia jatuh cinta dan berusaha membantu penderitaan ayah dan keluarganya.
Bagaimana akhir film Baran? Tidak mudah ditebak, dan mungkin penonton kecewa.
Langgan:
Entri (Atom)