GADIS GARUT


JUDUL: GADIS GARUT

PENGARANG: SAYID AHMAD ABDULLAH ASSEGAF

PENERBIT: LENTERA

TAHUN: 2008

JUMLAH HAL: 366 halaman

ISBN: 978-979-24-3350-0


Novel roman yang aslinya diterbitkan tahun 1929 dan diterbitkan di Solo (bagian satu) dan Jakarta (bagian dua) ini mengajak kita pada romantisme sastra klasik. Aslinya ditulis dalam bahasa Arab Melayu, dan kini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, memang benar-benar romantis. Alkisah Abdullah, seorang pemuda keturunan Arab dan tinggal di sebuah desa di kota Garut, jatuh cinta dengan Neng, seorang gadis asal Garut yang fasih berbahasa Arab dan Sunda. Berbagai lika-liku dijalani keduanya, termasuk beberapa problematika keluarga dan sosial, dan pada akhirnya happy ending.


Buat mereka yang tidak terbiasa dengan gaya bahasa klasik, mungkin butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan gaya bahasa yang berputar-putar, penuh keindahan, kata-kata simbol, dan sebagainya. Tak pelak lagi Abdullah Assegaf memang seorang pencerita romantis. Bukannya tidak mungkin tokoh Abdullah adalah personifikasi sang penulis, dan bukannya tidak mungkin kisahnya berdasarkan pengalaman pribadi penulis.


Sayid Ahmad Abdullah Assegaf adalah seorang pemuda keturunan Yaman yang merantau dan akhirnya menetap di Indonesia. Gadis Garut (sayang judulnya terdengar cheesy) adalah salah satu karya sastranya. Kelak beliau melanjutkan perjalanan, dan meninggalkan keluarganya di pulau Jawa, dan meninggal di perairan Laut Jawa 15 Maret 1950.

Komentar

baouie mengatakan…
Novel "Gadis Garut" ini pertama saya baca ketika saya duduk di bangku SMA tahun 2000.

Novel ini bagi saya merupakan hiburan tersendiri bagi saya menyangkut pengalaman pribadi yang kini menjadi sebuah cerita masa lalu yang menyenangkan hati.

Mengingatkan pada dia yang di Garut sana.
Heri M. Hari mengatakan…
Gadis Garut. sebuah novel yang mengingatkan saya pada seorang gadis Garut yang bersahabat dengan adat. dan tentunya taat. Menjunjung lokalitas, namun kerap ingin disebut bagian dari manusia (-wati) modern. mengingatkan kembali pada sosok gadis garut yang mempunyai daya tarik "binalitas" yang menggoda, tetapi nyantri. Alim. dan waktu yang menyeret gadis garut sekarang engan disebut "Neng". Seperti alerginya kawan "super-eksklusif" saya dengan panggilan itu. mungkin sealur dengan pembenaran perempuan supereksklusif itu atas kritik, kenapa buku ini tidak: "Neng" Garut tetapi Gadis Garut.
Nang.. Ning.. Nung.. Neng.. Nong..
Unknown mengatakan…
assalamu'alaikum, dulu bapak beli dmn pak ?
Unknown mengatakan…
novel ini masih ada gak ? saya mau beli
Cakrawala Senja mengatakan…
Waalaikum salaaammm

Buku ini dulu saya beli di Gramedia. Saran saya hubungi penerbit Lentera utk membelinya, karena saat ini sudah sulit ditemukan.
Unknown mengatakan…
Saya sdh punya bukunya yg jilid 1. Adakah jidid 2 nya?

Postingan Populer